Setiap kali ingin menulis tentang ini, saya selalu bingung harus mulai dari mana. Seolah rasanya sudah membuncah dan bisa saja kata-kata saya akan meledak sekaligus.
This is about attitude adjustment. Penyesuaian sikap. Sikap siapa? Sikap saya tentunya.
Selama ini,saya selalu berusaha menyesuaikan sikap saya dengan orang-orang di sekitar saya. Pokoknya, tujuan saya adalah,jangan sampai saya bersikap/berkata yang bisa menyinggung atau menyakiti hati orang lain.
Jika suatu saat justru saya yang tersinggung/tersakiti, saya akan memilih diam, mengurangi sikap '
friendly' saya pada orang itu, tapi bukan jutek. Dengan harapan, orang tersebut akan sadar sendiri dengan perubahan sikap saya.
Begitu pula jika ada orang bertingkah yang tidak saya sukai, saya akan memberikan sikap yang sama terhadapnya.
Tapi sayangnya, di dunia ini tidak banyak orang yang peka dengan hal seperti ini.
They keep doing the same annoying things meskipun sudah banyak orang yang mengingatkannya. Yah, di satu sisi, saya paling tidak enak untuk menegur orang lain. Tapi di sisi lain, saya sendiri harus menanggung sakit hati karena sikapnya.
Okay, now let's get to the point.
Mengapa saya menulis intro yang sedemikian panjangnya adalah karena belakangan ini saya merasa sikap 'diam' saya tadi mulai berubah menjadi 'jutek'.
Selama bertahun-tahun, saya sudah pernah menemui beberapa orang dengan karakter yang hampir sama. Salah satu karakter yang saya maksud disini adalah sensitif plus melodrama-type. Mereka mudah sekali mengeluh, menangis dan sedih luar biasa hanya karena hal yang sederhana.
It's okay if it happens once for each matter. Tapi yang jadi masalah adalah ketika orang-orang disekitarnya sibuk memberikan dukungan dan solusi, sementara mereka tetap saja mengulangi aksi melodrama-nya itu. Seolah-olah, mereka adalah orang paling malang di dunia dan tidak ada masalah lain yang lebih berat.
Saya tahu bahwa hal seperti itu tak bisa dihindari, karena memang itu sudah menjadi karakternya. Dan saya sadar betul bahwa mereka memang berbeda dari saya. Tapi saya merasa sangat terganggu dengan tingkah semacam itu. Sedih, marah, tersinggung, dan jengkel. Kenapa? Karena saya pernah mengalami masa-masa yang jauh lebih sulit dibanding mereka. Saya pernah merasakan kehilangan dan keterpurukan yang lebih daripada mereka, bahkan itu semua saya alami di usia belia. Dan kepada orang-orang
seperti mereka, saya selalu menceritakan pengalaman saya tersebut, dengan harapan mereka akan lebih bersyukur dan tenang.
Tapi apa yang saya dapat? Mereka terus mengulangi tingkah tadi, bahkan di depan mata saya. Saya jadi merasa seolah ucapan motivasi saya yang berbusa-busa itu sia-sia dan hanya menjadi angin lalu bagi mereka.
I hate it, but I can't help it. Alhasil, saya menunjukkan sikap diam dan '
cool' saja. Mungkin itulah yang membuat orang-orang melihat saya terkesan jutek
or whatsoever.
I mean, hey, you're not alone, guys. Ada ribuan orang di dunia ini yang punya masalah yang lebih berat dan lebih banyak dari kita untuk dikeluhkan atau ditangisi sampai mata bengkak sebesar bola golf. Ketika saya memang harus menangis, saya berusaha keras untuk menangis sendirian di kamar dan jangan sampai orang lain melihat. Well, mungkin itulah yang membuat kami sangatlah berbeda.
Bahkan, ada banyak kawan saya yang menyebut saya 'dewasa karena keadaan'. Mungkin mereka benar, tapi, woah...kata-kata sederhana itu seperti mengiris jantung. Menyakitkan sekali.
But, it's okay...hal-hal semacam inilah yang membuat saya 'grown up' hingga sekarang. Membuat saya tidak cengeng dan berpikir kian positif tentang masa depan. Karena, saya kira, saya akan lebih siap dengan masalah apapun yang akan terjadi nantinya.
Inti dari tulisan saya kali ini adalah,
I love my people, I care about them so much, but I wanna be understood as well.
I'm not an ignorant person and I don't want people to think I am.
So, right now, I need an attitude adjustment for that. Perlu penyesuaian sikap agar orang tidak menganggap saya jutek lah, galak lah,
whatever.
So, I'll appreciate your suggestions, all you bloggers. :)